“Karena
cinta bukan hanya tentang hati maupun otak, tapi keduanya sama-sama terlibat.”
Orang
bilang, cinta itu tak ada logika. Dan semua hanya tentang hati dan perasaan.
Tapi, tahukah Sahabat GueTau bahwa banyak ilmuwan yang tertarik meneliti
tentang cinta? Ada yang meneliti tentang tahapan cinta, sisi psikologis dari
cinta, dan biologis yang mempengaruhi dan dipengaruhi oleh cinta.Nah, di sini,
GueTau akan berbagi informasi mengenai pengaruh otak di balik hal-hal yang kita
lakukan saat sedang jatuh cinta.
Otak: Tempat
Perasaan Cinta itu “Bersarang”
Ada beberapa
hormon dan bagian otak yang mempengaruhi dan dipengaruhi oleh perasaan cinta
yang sedang dirasakan oleh seseorang. Setidaknya, ada 4 hormon diantaranya yang
telah diteliti oleh banyak ahli. Yakni cortisol, dopamine, serotonin, dan
norepinephrine. Saat seseorang jatuh cinta, tingkat serotonin menurun karena
peningkatan cortisol. Dan ini membuat otak menghasilkan dopamine, yang akan
memproduksi norepinephrine.

- Cortisol: Hormon yang “Membuat” Stres
Cortisol
adalah hormon yang berperan dalam stres. Saat Sahabat GueTau jatuh cinta, otak
meningkatkan produksi cortisol. Ini yang menyebabkan stres mudah datang saat
sang pujaan hati tak kunjung merespons perasaan. Tapi justru stres itu yang
membuat kita semakin bersemangat untuk mengejar cintanya. Itu pula yang berlaku
pada pasangan LDR dan backstreet yang memiliki banyak tantangan dan
membuat stres. Mengapa? Karena stres akan meningkatkan perasaan bergairah dan
senang. Jadi semakin tinggi kadar cortisol, akan semakin tinggi pula kadar
dopamine.
- Dopamine: Pembuat Perasaan Senang
Dopamine
berfungsi dalam perasaan senang. Produksi dopamine meningkat saat kita sedang
jatuh cinta. Ini yang membuat kita selalu merasa senang saat mengingat si dia.
Hormon ini pula yang bertanggung jawab atas perilaku kita yang tak bisa
berhenti memikirkannya, detak jantung yang berdegup cepat seolah akan segera
loncat dari dada, perasaan cemas sekaligus senang saat akan bergegas bertemu
dengannya. Dan juga bagaimana dia menjadi satu-satunya perhatian kita.
Bersama
dengannya jauh lebih penting daripada mengerjakan tugas sekolah, misalnya.
Semua akan
kita lakukan dan berikan, asalkan bisa bersamanya. Bahkan hingga lupa caranya
makan dan tidur. Singkatnya, karena dopamine-lah kita bisa mengenal adanya
“pengorbanan untuk cinta”.
- Serotonin: Penstabil Mood
Serotonin,
berfungsi dalam menstabilkan mood. Hormon ini menurun saat kita jatuh
cinta. Itu yang membuat mood kita sering berubah-ubah kalau sudah
berhubungan dengan si dia. Kadang bisa marah-marah karena dia tak kunjung
membalas chat atau sms, dan langsung berubah 180 derajat saat dia menelpon.
Selain itu,
serotonin juga bertanggung jawab atas adanya perasaan cemburu yang kita
rasakan. Ini karena menurunnya serotonin berhubungan dengan perasaan obsesi dan
kompulsi, seperti pada orang dengan Obsessive Compulsive Disorder (OCD).
Begitu pula dengan adanya keinginan untuk memiliki, menjaga semua kondisi tetap
sama, serta terobsesi pada salah satu hal (atau dalam hal ini pada seseorang),
juga disebabkan oleh rendahnya kadar serotonin di otak.
Serotonin
juga penyebab mengapa kita sering mengecek HP apakah dia mengirim SMS, chat,
atau menelpon kita.
- Norepinephrine: Membantu Kita Mengingat Hal Baru
Terakhir,
ada norepinephrine yang kadarnya meningkat saat kita jatuh cinta. Hormon ini
membuat kita bergairah dan terangsang. Tapi juga membantu kita mengingat
berbagai hal baru yang berhubungan dengan si dia. Kadar norepinephrine
berhubungan dengan dopamine. Jika dopamine meningkat, maka norepinephrine pun
begitu. Mengapa? Karena saat kita merasa senang akan sesuatu, maka akan lebih
mudah bagi kita untuk mengingat hal-hal yang berhubungan dengannya. Itu yang
membuat kita bisa ingat dengan detail apa hobi si dia, apa warna baju yang
dipakainya tadi siang, dan berbagai hal terkait dengannya.

Cinta memang
misterius. Dan menjadi hal yang wajar bahwa ia tidak hanya menarik perhatian
para penulis roman, ataupun pujangga. Tapi juga oleh para ilmuwan, ahli
psikologi, sosiologi, antropologi, serta fisiologi dan otak. Karena cinta bukan
hanya tentang hati maupun otak, tapi keduanya sama-sama terlibat. Bagi Sahabat
GueTau yang ingin tahu lebih banyak tentang dasar ilmiah dari perasaan jatuh
cinta, silahkan kirim pertanyaan ke info@guetau.com.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar